Minggu, 16 Juni 2024

Membangun Harmoni Melalui Pendidikan Multikultural: Urgensi Pendekatan Budaya Beragam di Indonesia

"Membangun Harmoni Melalui Pendidikan Multikultural: Urgensi Pendekatan Budaya Beragam di Indonesia" - Exploring Cultural Diversity in Indonesian Education for Unity and Progress

Sabtu, 15 Juni 2024

Transformasi Kurikulum: Membangun Masa Depan Pendidikan Indonesia

"Menuju Visi Pendidikan Unggul: Strategi Transformasi Kurikulum untuk Membangun Masa Depan Unggul Indonesia" Towards Visionary Education: Curriculum Transformation Strategies for Building Indonesia's Future Excellence

Bagaimana tantangan dan solusi masalah pendidikan indonesia era sekarang

 tantangan dan solusi masalah pendidikan indonesia era sekarang

Rabu, 04 Maret 2020

SOLUSI DALAM MENGHADAPI PROBLEM PENDIDIKAN DI INDONESIA






By : IFOLALA TELAUMBANUA 

SOLUSI DALAM MENGHADAPI PROBLEM PENDIDIKAN DI INDONESIA

 

Belakangan ini kajian mengenai dunia pendidikan terkonsentrasi pada masalah metode, kurikulum, ataupun sistem pendidikan itu sendiri. Tendensi ini dapat dimegerti, lewat “bongkar-pasang” sistem ataupun kurikulum yang diterapkan di dalam dunia pendidikan. Kajian mengenai ruang-ruang metafisis di dalam praksis pendidikan masih jarang dilakukan, perenungan lebih dalam mengenai prekondisi-prekondisi yang mendeterminasi kegiatan aktual di dalam ruang kelas.Pendidikan di Indonesia belum sepenuhnya memberikan pencerahan kepada masyarakat melalui nilai dan manfaat pendidikan itu sendiri. Kondisi ini terbukti dari rendahnya kualitas lulusan, rendahnya relevansi pendidikan dalam hal substansi dengan kebutuhan masyarakat, dan pendidikan justru dijadikan sebagai kawasan politisasi dari para pejabat. Untuk itu perlu adanya identifikasi kembali terhadap problematika pendidikan Indonesia dan solusi atas problematika tersebut.


Pendidikan sudah kita terima sejak lahir. Pendidikan bisa bersifat formal ataupun informal. Informal maknanya pendidikan bisa kita dapatkan melalui lingkungan, pergaulan, dan keseharian di rumah. Sedangkan, formal dalam artian pendidikan diperoleh melalui jalur resmi pendidikan seperti sekolah atau perguruan tinggi. Di Indonesia, upaya pembangunan pendidikan formal juga dilakukan di berbagai jenjang, mulai dari pendidikan dasar, menengah, sampai pendidikan tinggi. Semua jenjang ini diharapakan memenuhi fungsi dan mencapai tujuan pendidikan nasional, seperti yang terdapat dalam Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 Tahun 2003 yaitu berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa; dan bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

 



Problema Pendidikan di Indonesia Saat Ini

apa ya masalahnya??

Permasalahan mutu pendidikan tidak berdiri sendiri, tetapi terkait dengan suatu sistem yang saling berpengaruh. Mutu keluaran dipengaruhi oleh mutu masukan dan mutu proses. Pembahasan dalam hal ini didasarkan pada komponen masukan, proses, dan keluaran. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) atau Human Development Index (HDI) merupakan pengukuran perbandingan dari harapan hidup, melek huruf, pendidikan, dan standar hidup untuk semua negara seluruh dunia. IPM digunakan untuk mengklasifikasikan apakah sebuah negara adalah negara maju, negara berkembang atau negara terbelakang dan juga untuk mengukur pengaruh dari kebijaksanaan ekonomi terhadap kualitas hidup.

          Kurikulum sering dianggap dokumen sakti yang harus menjadi pegangan. Apa yang tertuang di dalamnya menjadi satusatunya pegangan. Banyak guru yang masih takut berkreasi dan berinovasi. Orientasi kurikulum masih dilihat dari ketuntasan materi pelajaran. Guru menjadi panik begitu menyadari materi yang diajarkan belum terselesaikan. Guru selalu dikejar-kejar target kurikulum, padahal pelaksanaan pembelajaran mengalami berbagai situasi yang berbeda-beda setiap semester dan setiap tahunnya. Sehingga pembelajaran di kelas sebagian besar masih terbatas pada penyelesaian bahan ajar tanpa meperdulikan apakah seluruh peserta didik sudah menguasai pelajaran atau belum. Realitanya hanya sepertiga peserta didik yang menguasai seluruh pelajaran. Sedangkan duapertiganya akan mengakumulasikan ketidakpahamannya yang nanti tercermin dalam ketidakmampuannya menjawab tes yang diberikan. Selain itu, substansi kurikulum dalam hal kepadatan materi tidak signifikan dengan alokasi waktu tersedia. Ini juga merupakan salah satu sebab bahwa materi yang dibelajarkan dikelas kurang bermakna dan kurang terlihat relevansinya bagi siswa.

         


apa Tujuan Pendidikan kita sudah benar?
                    Tujuan pendidikan adalah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Harusnya pendidikan itu menciptakan siswa yang memiliki daya nalar yang tinggi, memiliki kemampuan analisis tentang apa yang terjadi sehingga bila di terjunkan dalam suatu permasalahan akan dapat mengambil keputusan yang tepat. Akan tetapi fenomenanya, pendidikan itu dapat pula menyesatkan. Bisa kita lihat dari kualitas pendidikan kita yang hanya diukur berdasarkan ijazah. Padahal sekarang ini banyak ijazah yang diperjual-belikan. Dan tidak bisa kita pungkiri banyakpejabat yang membelinya. Jika kita pikirkan, berarti asalkanmemiliki uang kita tidak perlu bersekolah, ijazah tinggal kita belisaja. Bagaimana kondisi bangsa ini, jika semua orang berpikiran seperti itu?

       

  Biaya pendidikan mahal? Ya, bagi sebagian besar masyarakat biaya pendidikan masih dianggap mahal. Kita lihat contoh real mengenai program Wajib Belajar Sembilan Tahun, yang sejatinya masih menjadi pekerjaan rumah bagi kita. Karena pada kenyataannya banyak anak-anak usia sekolah yang tidak bersekolah atau putus sekolah dengan alasan biaya. Padahal ada dana bantuan dari pusat, tapi tetap saja ada pungutan-pungutan liar yang dilakukan sekolah berkedok kesepakatan antara sekolah dan orang tua siswa. Tapi serta merta kita tidak bisa menyalahkan sekolah saja. Praktek di luar, dana bantuan dari pusat tidak utuh sampai di sekolah. Entah di tingkat mana dana-dana tersebut dipangkas oleh oknum-oknum yang terhormat.

 

Langkah Selanjutnya (Solusi) untuk Menanggulangi Problem Pendidikan Kita

Kemajuan pendidikan harus berazaz gotong royong

Penyelesaian masalah pendidikan tidak semestinya dilakukan secara terkotak-kotak. Tetapi harus di tempuh dalam suatu tindakan yang menyeluruh. Misalnya jika pemerintah hanya menaikkan anggaran, tetapi sumber daya dan mutu pendidikan masih rendah, maka apa yang diharapkan tidak akan tercapai. Jika kita lihat melalui permasalahan kurikulum, hal yang dapat kita benahi adalah pelaksanaan dan tuntutan yang diberikan kepada pelaksana kurikulum ini. Contohnya, jika guru di sekolah diberikan keleluasaan dalam menjalankan kurikulum (asal masih berada pada koridornya) maka janganlah guru dituntut untuk menghabiskan materi. Bukankah pembelajaran akan lebih bermakna jika siswa benar-benar memahami materi walaupun sedikit, daripada banyak tapi yang diketahui hanya permukaannya saja.

                Menyoal masalah biaya, jika semua pemangku pendidikan menjalankan program dengan benar, anggaran pendidikan di negara ini tidaklah kurang. Sayangnya dengan adanya permainan oknum-oknum, segala hal menjadi kurang, pemerataan penerimaan danapendidikan pun tidak seimbang. Pendidikan yang berkualitas memang tidak murah, atau tepatnya bisa kita katakan tidak harus murah atau gratis. Pemerintah seharusnya menjamin bahwa setiap warga negaranya memperoleh pendidikan. Menjamin pula bahwa masyarakat bawah bisa mengakses pendidikan yang bermutu. Idealnya pendidikan di Indonesia harus dapat dikenyam oleh anak usia sekolah minimal SMA sederajat, tanpa memandang anak tersebut berasal dari keluarga kaya ataupun miskin. Mengenai permasalahan pendidikan yang hanya didasarkan pada ijazah dan kelulusan UN. Ijazah memang penting untukmenunjukkan legalitas kemampuan kita, akan tetapi hendaknyayang memerlukan ijazah ini lebih menekankan proses perolehanijazah. Tidak ada bedanya dengan UN, sebenarnya pelaksanaan UN masih relevan, tetapi dalam prosesnya masih ada yang perlu diperhatikan dan dibenahi. Contohnya, standar kelulusan lebih baik disesuaikan dengan kondisi dan lingkungan masing-masing siswa. Jika menyangkut masalah sarana prasarana tentunya akan berpulang lagi pada komitmen pemerintah dan pemangku pendidikan terkait. Dan tidak terlepas pula yang sudah dibahas di atas bahwa semuanya harus dikembalikan ke pribadi pemangku kepentingan, apakah mereka berniat untuk benar-benar berguna bagi negara atau sekedar mencari keuntungan ditengah kondisi pendidikan bangsa ini.


            Jika semua pemangku kepentingan memiliki rasa kejujuran dan keinginan untuk memajukan bangsa, tidak mudah terpengaruh oleh lingkungan, dan bisa bersifat tegas terhadap hal-hal yang dapat merugikan sistem pendidikan kita, niscaya pendidikan yang berkualitas akan dimiliki oleh bangsa ini. Mulai dari pejabat pusat dan sampai guru yang bersentuhan langsung dengan siswa, harus memiliki komitmen yang sama dalam memajukan pendidikan bangsa ini.






Sekian dan Terimakasih, Ya'ahowu.


Membangun Harmoni Melalui Pendidikan Multikultural: Urgensi Pendekatan Budaya Beragam di Indonesia

"Membangun Harmoni Melalui Pendidikan Multikultural: Urgensi Pendekatan Budaya Beragam di Indonesia" - Exploring Cultural Diversit...